KUTIM – Guru SLB Negeri Kutai Timur Arum Puspita Ningtias menggelar kegiatan pelatihan ‘Sunyi Bermakna’ Kelas Isyarat Umum, di hotel Royal Victoria Sangatta, Sangatta Utara, Kutim, Sabtu (18/2/2023).
Kegiatannya SLB atau Sekolah Luar Biasa ini, diperuntukkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus yaitu tunanetra (buta), tunawicara (tuli-bisu), tunagrahita (cacat mental), tunadaksa (cacat tubuh), dan tunalaras (kenakalan anak-anak).
Di sekolah itu ada pula guru-guru luar biasa dengan hati yang sungguh mulia. Mereka berani mengambil amanah besar yang tidak semua orang mau melakukannya. Mereka bekerja setulus hati walaupun tak banyak orang yang memujinya. Mereka mengajarkan kepada anak-anak itu tentang cara menjalani kehidupan yang tidak banyak berpihak.
“Jangan ragu, semua memiliki kesempatan yang sama. Tunjukan kelebihan yang dimiliki agar memiliki daya saing,” ujar Arum Puspita Ningtias diharapan peserta pelatihan.
Dikatakan, sisi positif yang harus dipelajari adalah kebersamaan ini mengajarkan bisa menciptakan kebahagiaan, bergandengan lebih baik daripada saling menjatuhkan.
SLB Negeri Kutai Timur senantiasa berusaha untuk memberikan layanan pendidikan baik secara akademik dan non akademik bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
“Dalam memenuhi kebutuhan dan mendukung pengembangan diri peserta didik berkebutuhan khusus, tentunya diperlukan keterlibatan bermakna antara sekolah, orang tua/keluarga dan masyarakat dengan ini dibuatkan kelas isyarat umum atau bisa di kenal dengan Sukma sunyi bermakna,” ungkapnya.

SLB Negeri Kutai timur menjalin kemitraan dengan orang tua/keluarga dan masyarakat melalui Tri Sentra Pendidikan yang telah dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara agar pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus berjalan optimal.
Dalam hal ini, SLB Negeri Kutai Timur menjalin kerjasama dengan orang tua baik secara personal maupun komite sekolah, serta dengan beberapa lembaga dan komunitas. Kerjasama dengan orang tua dilakukan guna mengetahui kemajuan belajar peserta didik, perkembangan perilaku dan aspek non akademik peserta didik saat peserta didik tidak bersama guru di sekolah, serta kerjasama dalam mendukung wirausaha peserta didik.
Kerjasama dengan lembaga dan komunitas dilakukan guna mengembangkan IT, mengembangkan pembelajaran digital, konseling, riset, serta yang paling utama adalah pengembangan bakat minat dan keterampilan peserta didik. Kemitraan yang dilaksanakan dengan mengacu pada Tri Sentra Pendidikan dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh peserta didik.(wm1)







