SAMARINDA – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kaltim mencatat, jumlah perpustakaan sekolah di tingkat SD dan SMP hanya berjumlah total 911 yang tersebar di seluruh kabupaten/kota, termasuk Kota Samarinda.
Jumlah perpustakaan sekolah ini dinilai masih sangat minim dibandingkan dengan jumlah sekolah yang ada.
Sementara dari total jumlah 911 perpustakaan sekolah tingkat SD hingga SMP, baru 138 perpustakaan yang sudah terakreditasi.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Samarinda Deni Anwar Hakim mengaku prihatin.
Menurut dia, banyaknya jumlah sekolah tingkat SD dan SMP, khususnya yang ada di Kota Samarinda harusnya diimbangi dengan penyediaan fasilitas perpustakaan maupun pojok baca sekolah.
Komisi IV DPRD Samarinda, kata dia, terus mendorong Dinas Pendidikan Kota Samarinda untuk melakukan pendataan sekolah-sekolah yang belum memiliki perpustakaan, untuk selanjutkan diberikan perhatian khusus.
Kata dia, peran perpustakaan sangat penting bagi generasi muda dalam hal menambah wawasan, ilmu dan menjadi sarana peningkatan generasi muda yang cerdas, berkualitas dengan memiliki literasi yang luas. Namun jika, penyediaan sarana perpustakaan sekolah ini diabaikan, maka dikhawatirkan akan mempengaruhi literasi siswa sekolah itu sendiri.
“Saya sudah sampaikan kepada Dinas Pendidikan, bahwa harusnya tidak ada lagi sekolah yang tidak memiliki perpustakaan, minimal dibuatkan entah di sebelah ruang guru atau di sebelah labolatorium itu harus ada perpustakaan. Maka itu, nanti akan kami tinjau lagi kalau memang ada sekolahan yang belum memiliki perpustakaan,” katanya.
Kepada seluruh sekolah di Samarinda, Deni meminta untuk memberikan perhatian khusus penyiapan sarana dan prasarana perpustakaan sekolah. Minimal, kata dia, jika sekolah belum memiliki kemampuan pengadaan perpustakaan sekolah, minimal membuat pojok baca di sekolah, sehingga budaya literasi siswa telah tertanam sejak dini.
“Kalau berbicara literasi, sebetulnya kita sudah menggalakkan pojok baca di setiap sekolah, baik di setiap sudut, baik SD dan SMP dan kita juga menggalakkan untuk perpustaakaan yang ada di Kota Samarinda. Kita ingin budaya literasi ini menjadi budaya yang menjamur di kalangan anak-anak, karena ini menjadi salah satu penangkal digitalisasi masif, yaitu dengan budaya literasi,” pungkasnya.(end/adv/dpkkaltim)







