Samarinda – Kabupaten Kutai Timur yang terkenal akan sumber daya alamnya, mulai dari sawit hingga batu bara, sampai kini pun masih belum bisa menjawab persoalan keterbatasan listrik yang ada di daerah sekitarnya. Terkhususnya di daerah pedalaman, masih banyak desa yang belum menerima akses dan penyedian listrik dari PLN.
Data terbaru menunjukkan, dari total 141 desa yang ada di Kutai Timur, sebanyak 26 desa belum mendapatkan akses listrik dari PLN. Bahkan di beberapa desa yang sudah tersambung, seperti Desa Manubar dan Manubar Dalam di Kecamatan Sandaran, aliran listrik juga masih terbatas, dan hanya menyala sekitar 12 jam per hari sejak 2024.
Meski begitu, pemerintah tidak diam dalam menghadapi masalah ini. Berbagai alternatif pun sedang dikembangkan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan energi Listrik di masyarakat.
Salah satu strategi yang mulai dikembangkan ialah pemanfaatan kelebihan daya (excess power) dari industri kelapa sawit. PT Bumi Mas Agro (BMA) diketahui telah memiliki daya listrik sekitar 1 megawatt yang dapat dimanfaatkan untuk menopang kebutuhan tujuh desa di sekitarnya. Skema ini melibatkan sinergi antara jaringan internal perusahaan dan sistem interkoneksi PLN.
Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, menyoroti bagaimana pentingnya memaksimalkan sumber daya lokal, terutama limbah sawit, untuk memenuhi kebutuhan energi daerah. Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan limbah sawit, yang selama ini dianggap sebagai masalah lingkungan, dapat menjadi solusi strategis untuk penyediaan listrik.
Selain memasok listrik, pemanfaatan biogas dan biomassa dari limbah sawit memberikan efek positif terhadap lingkungan, mengurangi emisi gas rumah kaca dan pencemaran air. Upaya ini selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan yang digaungkan pemerintah pusat dan daerah.
“Pemanfaatan limbah sawit seperti tandan kosong, cangkang, hingga limbah cair (POME) bisa diolah menjadi biomassa maupun biogas. Ini bukan sekadar solusi kelistrikan, tapi juga kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan,” ujarnya di kantor Gubernur Kaltim, Jum’at (18/7/2025).
Data terbaru menunjukkan, limbah padat sawit Kaltim mencapai sekitar 800 juta ton. Dari jumlah ini, potensi energi yang dapat dihasilkan mencapai delapan gigawatt, angka yang sangat signifikan untuk memenuhi kebutuhan listrik regional. Selain untuk pembangkit listrik, gas biometana dari POME juga bisa menggantikan elpiji hingga digunakan untuk kebutuhan transportasi dan industri.
Pemerintah Kaltim telah menginisiasi sejumlah pilot project di pabrik kelapa sawit, mengintegrasikan pengolahan limbah cair menjadi biogas yang dapat dijadikan sumber energi. Beberapa pabrik bahkan sudah mulai memasok listrik hasil olahan limbah sawit ke jaringan PLN dan sebagai energi mandiri bagi desa-desa terpencil.
Kaltim sebagai salah satu provinsi penghasil sawit terbesar di Indonesia, menghasilkan jutaan ton limbah padat dan cair setiap tahunnya. Sayangnya, potensi ini masih belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagian besar limbah padat sawit, seperti tandan kosong dan cangkang, dapat diubah menjadi energi terbarukan melalui proses anaerobik, menghasilkan listrik dalam kapasitas besar.
“Kita punya limbah sawit dalam jumlah besar. Jangan hanya jadi limbah, tapi harus diubah menjadi energi yang bermanfaat bagi masyarakat.” Jelasnya.
Ia pun menjelaskan, bahwa tantangan bagi pemerintah ialah terletak pada percepatan teknologi dan investasi di sektor energi terbarukan dari limbah sawit. Ia berharap kerja sama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dapat memperkuat rantai pasok energi hijau di Kaltim.
Dengan langkah konkret ini, dia optimistis bahwa keterbatasan listrik di Kaltim dapat diatasi secara progresif, sekaligus mendukung pemberdayaan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Upaya konversi limbah sawit menjadi energi akan menjadi tonggak penting dalam pembangunan daerah yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. (Slm/ADV/Diskominfo)







