SAMARINDA – Bagi masyarakat awam, gulma adalah tanaman liar pengganggu tanaman pokok. Sehingga gulma terkadang harus dimusnahkan karena dinilai tidak memberikan manfaat bagi petani dan sektor pertanian dalam arti luas.
Namun tahukah jika banyak spesies gulma yang terdata di Indonesia, banyak memberikan manfaat bagi manusia dalam memproduksi bahan makanan.
Sebut saja gulma perdu dari jenis pohon Karamunting atau Kemunting yang memiliki bunga cantik berwarna ungu. Walau dianggap sebagai tumbuhan pengganggu tanaman pertanian dan perkebunan, ternyata bunga pohon Karamunting ini adalah salah satu makanan utama lebah Madu (Apis cerana) maupun lebah Kelulut (Apis trigona).
“Artinya banyak gulma yang bermanfaat dalam menyokong pengendalian hayati bagi hama-hama tanaman yang lain atau istilahnya musuh alami. Selain itu juga banyak obat-obatan yang berasal dari gulma, seperti tanaman kaca-kaca atau peperomia pellucida,” ujar Ketua Komisariat Daerah HIGI Kaltim, Dr Ir, Encik Ahkmad Syaifudin, di sela-sela Seminar dan Konferensi Nasional HIGI di Samarinda, pada Kamis (6/10/2022).
Akhmad Syaifuddin berharap seminar nasional dan konferensi HIGI ini akan mampu memberikan sumbangsih pemikiran bagi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Menurutnya, IKN nantinya adalah “kota di dalam hutan” yang sangat ekologis. Sehingga teknologi baru dan terbarukan sangat mendukung keberadaan IKN ke depannya.
Nantinya pengendalian gulma di kawasan IKN diharapkan akan memanfaatkan teknologi yang dapat digunakan oleh umat manusia. Wilayah IKN, ujarnya, memiliki beberapa wilayah pendukung, seperti Kota Balikpapan, Samarinda, maupun kota-kota di PPU ataupun di Kabupaten Kutai Kartanegara.
“Bila kita mengelola dengan baik gulma yang ada di wilayah kota-kota pendukung ini tentu kita mengharapkan produksi pertanian dan hortikultura, perikanan dan peternakan, hasilnya meningkat dan mampu menopang kehidupan di IKN nantinya,” harap Syaifudin.
Sementara itu, Ketua Komisariat Nasional Himpunan Ilmu Gulma Indonesia, DR Ir Nani Suryani menjelaskan, saat ini ada ratusan merek pembasmi gulma atau herbisida yang telah beredar maupun yang sedang dalam masa uji coba untuk dipasarkan.
Tingginya uang yang dibelanjakan petani dan perusahaan perkebunan untuk membasmi gulma ini angkanya mencapai puluhan triliun rupiah setiap tahunnya.
Angka yang besar ini menunjukkan bahwa gulma dampaknya memang tidak terlalu dramatis seperti halnya hama daun berlubang atau busuk batang, tetapi tetap dampak yang luar biasa bagi pertanian maupun produksi pangan.
“Gulma jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak buruk baik pada produksi tanaman pertanian pada umumnya dan dampak buruk pada lingkungan. Melalui seminar dan konferensi ini kami berharap pengelolaan gulma dapat lebih dipahami terutama oleh para pengambil keputusan di pemerintahan,” harap Nani Suryani.(Yuliawan. A)







