Samarinda – Pindahnya lokasi SMA 10 ke Samarinda Seberang tengah menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Banyak orang tua siswa yang mengkhawatirkan dampak perpindahan ini terhadap kualitas pendidikan dan prestasi akademik anak-anak mereka.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi IV DPRD Kaltim H. Baba memberikan pandangannya terkait adaptasi para siswa di tempat baru. Menurutnya, perpindahan sekolah ke lokasi baru memang memerlukan waktu untuk beradaptasi.
Ia meminta masyarakat dan orang tua siswa agar tidak langsung menarik kesimpulan negatif dalam waktu singkat. Proses penyesuaian ini menurutnya wajar dan memerlukan kesabaran.
“Namanya pindah tempat, pasti butuh waktu untuk menyesuaikan. Jangan langsung menyimpulkan negatif di minggu pertama,” ujarnya di kantor DPRD Kaltim pada Senin, (4/8/2025).
Ia menambahkan, anak-anak biasanya memiliki kemampuan adaptasi yang lebih cepat dibandingkan orang tua yang cenderung lebih khawatir terhadap perubahan lingkungan belajar.
Ia mengajak orang tua untuk melihat persoalan ini secara utuh. Apalagi, menurutnya, sebagian besar keluhan lebih banyak datang dari orang tua, bukan dari para siswa itu sendiri.
“Anak-anak ini biasanya lebih cepat beradaptasi. Tapi orang tua, karena khawatir, jadi lebih sensitif. Padahal ini baru hari ke-10 mereka belajar di lokasi baru,” tambahnya.
Sebagai informasi, Kampus Melati ditetapkan sebagai lokasi tetap SMA 10 menggantikan Kampus Cendana yang sejak 2022 hanya digunakan sementara. Keputusan ini diambil oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim sebagai bagian dari penataan sarana pendidikan di wilayah Samarinda.
Namun, tantangan langsung terasa. Beberapa fasilitas seperti laboratorium, ruang ekstrakurikuler, dan sarana penunjang lainnya belum sepenuhnya berfungsi. Tak sedikit orang tua menyebut anak-anak mereka mengalami penurunan semangat belajar akibat perubahan mendadak ini.
Akan tetapi, dia juga menegaskan pentingnya memberi kesempatan waktu bagi siswa untuk menyesuaikan diri sebelum menilai perubahan prestasi akademik.
“Kalau bilang prestasi menurun, beri waktu dulu. Setidaknya satu semester. Jangan dari minggu pertama langsung membuat kesimpulan. Kami akan terus pantau dan evaluasi,” tuturnya.
Komunikasi antara sekolah, siswa, dan orang tua, menurutnya harus selalu dibangun agar pengawasan dan evaluasi dapat dilakukan dengan baik.
“Transparansi dan komunikasi itu kunci. Kalau semua duduk bersama, keluhan bisa diurai, dan solusi bisa ditemukan lebih cepat,” tambahnya (adv-DPRD Kaltim/Salim).







