SAMARINDA – Menjelang Idul Fitri 1443 Hijriah, beras dari hasil produksi petani di Kalimantan Timur pada tahun ini hanya dapat terserap sebanyak 225 ton oleh Perum Badan Urusan Logistik Divisi Regional Kalimantan Timur-Kalimantan Utara (Bulog Divre Kaltimtara). Jumlah ini terbilang turun dari penyerapan beras petani pada tahun 2021 lalu, jumlahnya mencapai 1.500 ton.
Menyikapi keadaan ini , Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Timur (DPTPH Kaltim) Ir Siti Farisyah Yana menyarankan kepada pengurus Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi (Perpadi) di kabupaten/kota agar membuat merek dagang beras sendiri agar produknya mudah dijual.
“Dengan adanya merek, selain mudah dijual, beras pun akan lebih mudah dicari pembeli. Soal harga tentunya harus menyesuaikan dengan kualitas beras yang dijual,” ujar Siti Farisyah Yana, pada Senin (25/4/20220).

Farisyah Yana mengakui beras dari petani kadang kualitasnya belum memenuhi standar Bulog. Misalnya saja BUlog hanya mampu membeli beras petani kalau kadar airnya diambang batas tertentu yaitu kurang dari 10 persen. Demikian juga jumlah beras patah (broken) kurang dari 20 persen serta gabah harus terkelupas dari kulit padi setidaknya sebesar 95 persen.
Saran agar beras lokal dikemas dan dijual dengan merek tertentu ini untuk menjawab keluhan anggota Perpadi Kaltim yang produksinya melimpah saat petani panen raya, namun beras mereka tidak dapat diserap maksimal oleh Bulog.
“Soal merk, terserah apa namanya, misalnya ‘Beras Yana’ dengan kualitas tertentu yang telah melalui standarisasi. Tapi semua harus bersatu, kompak, jangan bikin merk sendiri-sendiri supaya kuat, sehingga merk tersebut mudah ditemukan di banyak toko yang tersebar di kabupaten/kota,” sarannya.
Yana menyebutkan, pemerintah Provinsi Kaltim sudah membantu sebagian petani dalam kelengkapan alat permesinan seperti, mesin penggilingan dan mesin pengering gabah. Menurutnya, bantuan yang telah disalurkan ini sudah cukup membantu para petani dalam upaya menghasilkan beras yang berkualitas baik.
“Kita sudah cukup memberikan bantuan alat penggilingan dan pengering gabah dengan kapasitas alat yang cukup besar. Saya rasa itu sudah cukup untuk digunakan oleh petani dalam memproses gabah menjadi berasnya,” ucap Yana.
Disebutkannya, sentra produksi padi di Kaltim yaitu berada di Kabupaten Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, Paser dan Berau. Bahkan untuk sentralisasi produksi dalam pemenuhan pangan di Kaltim, rencananya akan dijadikan sentra pangan untuk menyongsong keberadaan Ibu Kota Negara Nusantara pada 2024 mendatang. (yan)







