SAMARINDA – Pandemi Covid-19 yang melanda dunia 2 tahun lalu membuat pertumbuhan ekonomi dunia melambat, neraca perdagangan minus dan inflasi meningkat. Namun dibalik krisis tersebut sektor perkebunan ternyata jadi penyeimbang penguat ekonomi.
“Ketika neraca perdagangan minus, sektor Perkebunan justru bisa menyumbang lebih dari Rp 300 triliun untuk ekspor CPO dan turunannya,” ungkap Yus Alwi – Ketua Harian Forum Komunikasi Perkebunan Berkelanjutan (FKB) Kaltim di Hotel Swiss Bell Samarinda, Kamis (10/11/2022).
Ditemui di sela agenda Penyusunan Rencana Kerja Kegiatan Tahun 2022-2025 dan Program Prioritas Tahun 2022-2023 FKPB Kaltim, Yus Alwi mengatakan potensi sektor perkebunan dalam menunjang perekonomian, dibuktikan dengan kontribusi sektor ini pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim, yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
“Di tingkat nasional, sektor perkebunan juga terbukti mampu menjadi penguat ekonomi melalui ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunannya,” tambahnya.
Perkebunan merupakan sektor paling potensial untuk melepas ketergantungan ekonomi di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dari sektor pertambangan dan migas. Sektor perkebunan, dapat menjadi aktor utama dalam transformasi ekonomi Kaltim berbasis renewable resource atau sumber daya alam terbarukan.
Diharapkan pembangunan ekonomi Kaltim akan berbasiskan pengelolaan sumber daya alam terbarukan dengan menitik beratkan pada upaya peningkatan nilai tambah melalui pengembangan industri hilir.
“Perekoniam Kaltim tidak bisa lagi tergantung pada sumber daya alam tidak terbarukan, seperti batu bara maupun migas. Pemerintah daerah sudah menyusun arah transformasi ekonomi berkelanjutan dan itu ada di sektor pertanian dalam arti luas. Sektor perkebunan, menjadi bagian di dalamnya,” ujarnya.
Perkebunan terutama kelapa sawit dan komoditas lainnya menjadi komoditas unggulan penting dalam menyediakan bahan baku untuk industri oleochemical sebagai strategi hilirisasi industri. Perkebunan memiliki peran penting dalam pengembangan ekonomi kerakyatan, pengembangan energi baru terbarukan, serta menurunkan intensitas emisi gas rumah kaca.(hel)







