SAMARINDA – Sepanjang tahun 2022, jumlah kasus kekerasan perempuan dan anak di kabupaten/kota Kaltim terjadi sebanyak 945 kasus dan terbanyak terjadi di Kota Samarinda, mencapai 458 kasus.
Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPK3A) Kaltim mencatat, per 31 Desember 2022, kasus kekerasan perempuan dan anak mengalami peningkatan signifikan, dibanding tahun-tahun sebelumnya. Selama 4 tahun terakhir, yakni 2019 terjadi sebanyak 623 kasus, 2020 terjadi sebanyak 656 kasus. Tahun 2021 terjadi penurunan, hanya sebanyak 551 kasus, kemudian di tahun 2022 terjadi sebanyak 945 kasus atau naik sebanyak 394 kasus.
Kepala Seksi (Kasi) Perlindungan Perempuan DKP3A Kaltim Fachmi Rozano ditemui di ruang kerjanya, Kamis (23/2/2023) merincikan, jumlah kasus kekerasan perempuan dan anak tahun 2022 di Berau terjadi sebanyak 37 kasus, Balikpapan 80 kasus, Bontang 117 kasus, Samarinda 458 kasus, Kubar 28 kasus, Kukar 77 kasus, Kutim 69 kasus, Mahulu 5 kasus, Paser 37 kasus dan PPU 37 kasus.
“Terbanyak kasus memang terjadi di Samarinda sejak 4 tahun terakhir. Di tahun 2019 kasus kekerasan perempuan dan anak sebanyak 298 kasus, sempat turun tipis di tahun 2020 hanya sekitar 291 kasus, turun lagi di tahun 2021 jadi 240 kasus. Tapi di tahun 2022 meningkat dua kali lipat, jadi 458 kasus,” bebernya.
Fachmi menyebut, persentase korban kekerasan tahun 2022 mayoritas korbannya adalah anak-anak, sebanyak 53,2 persen. Sedangkan korban kekerasan pada usia dewasa terjadi sekitar 46,8 persen.
“Mayoritas korbannya adalah wanita, tapi memang ada juga laki-laki, tapi jumlahnya sedikit,” katanya.
Secara detail karakteristik korban kekerasan berdasarkan pendidikan terbanyak korban berpendidikan SLTA sebanyak 32 persen, lalu SLTP sebanyak 21 persen, SD sebanyak 25 persen dan mahasiswa 7 persen.
“Kekerasan yang terjadi pada anak-anak adalah kekerasan seksual, sebanyak 312 korban. Sedang usia dewasa mayoritas mengalami kekerasan fisik, sebanyak 324 korban,” ujarnya.
Disinggung mengenai latar belakang terjadinya tindak kekerasan pada perempuan dan anak, Fachmi mengatakan, persoalan ekonomi.
“Sejak dari dulu, persoalan ekonomi yang paling banyak menjadi pemicunya,” sebutnya.
Untuk itu, kata dia DKP3A Kaltim bersama kabupaten/kota membuat berbagai pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan keterampilan, yang diharapkan akan membuka peluang usaha.
“Kami sudah melaksanakan pelatihan-pelatihan, seperti memasak, membuat kerajinan, menjahit dan sebagainya. Ini sebagai upaya untuk memotivasi, khususnya kaum ibu untuk memiliki kemampuan dan keahlian yang bisa dijadikan untuk usaha, sehingga tidak ada lagi kekerasan karena ekonomi di masyarakat kita,” tutupnya. (eha)







