Gemericik air nyaring jatuh dari tower penyaringan air setinggi 20 meter. Air itu berasal dari sumur bor kedalaman 100 meter, yang disedot dengan pompa listrik dan dialirkan melalui pipa diameter 3 inci ke tower penyaringan dengan 5 level penyaringan.
Air yang sudah melalui 5 level penyaringan, selanjutnya dialirkan dan diproses ke dalam enam buah bak pengendapan yang terbuat dari beton berukuran sembilan meter persegi, dengan sedikit diberi kaporit dan tawas guna menghilangkan bau dan kadar zat besi atau ferit yang tinggi. Usai diendapkan kembali selama 5 jam, air bersih pun siap dipompa dan dialirkan ke 370 sambungan rumah di RT 1, 2, 3 dan 4 Desa Saliki.
Sebuah proses pengolahan dan penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) yang dikelola BUMDes Mekar Sejati di jalan Revolusi RT 3 Desa Saliki Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (kukar), di Provinsi Kalimantan Timur.
Pamsimas yang diresmikan Bupati Kukar Edy Damansyah pada 13 Februari 2018 silam, adalah jawaban atas sulitnya mendapatkan air bersih di Desa Saliki, sebuah desa yang berada di lapangan minyak dan gas (migas) Badak yang berada di Kecamatan Muara Badak di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, yang sejak tahun 2018 dikelola SKK MIGAS – PT. Pertamina Hulu Sanga-Sanga (PHSS).
Maria perempuan berusia 41 tahun yang sudah berdomisili lebih 40 tahun di Desa Saliki menuturkan, dirinya adalah saksi mata sulitnya mencari air bersih di desa yang sejak kecil hingga kini ia sudah berkeluarga. Air yang ada di Desa Saliki hanya air rawa, sumur gali atau bor milik warga, yang warnanya kekuning-kuningan, akibat tingginya kadar zat besi atau ferit. Sangat tidak layak digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian apalagi untuk di konsumsi.

“Dahulu, jika ada anak sekolah yang memakai baju putih tapi putih yang warnanya kekuning-kuningan, dipastikan anak itu berasal dari Desa Saliki, karena air yang digunakan mencuci pakaian berwarna kuning,” ujar ibu dua anak ini, Jumat (22/07/2022).
Ia sangat senang setelah air dari Pamsimas mengalir ke rumahnya, air bersih bisa digunakan untuk mencuci pakaian hingga baju putih benar-benar putih, mandi dan memasak, dengan biaya yang sangat murah.
“Di rumah, saya memiliki tandon penampungan air sebanyak dua buah ukuran 1200 liter, air dari Pamsimas ditampung di tandon air, per bulan biaya iurannya sekitar Rp 25.000,- maksimal pemakaian sebesar Rp 40.000,-,” ungkap Maria yang berprofesi sebagai Kepala Sekolah SDN 022 Muara Badak.
Senada, Kepala Desa Saliki Saliansyah menuturkan kondisi air tanah di Desa Saliki yang kuning tua akibat tingginya zat besi atau ferit sehingga kualitas air sangat rendah dan sangat tidak layak digunakan.

Warga pun melalui Kepala Desa Saliki pada tahun 2016 mengajukan permohonan ke pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan perusahaan migas SKK MIGAS – VICO Indonesia sebagai operator lapangan migas Badak, yang berjarak 8 Km dari Desa Saliki, perusahaan migas yang saat itu mengelola lapangan migas Badak sejak tahun 1972.
“Pada tahun 2016 dimulailah pengusulan pembangunan instalasi air bersih, dengan bantuan dari perusahaan saat itu VICO Indonesia sebesar Rp 208 juta untuk pembangunan water treatment seperti pagar, bak penampungan, tower air, pompa dan filter air,” ucap Kades Saliansyah.
Di awal beroperasinya instalasi pengolahan air bersih Pamsimas, hanya mampu mengalirkan air bersih kepada 30 sambungan rumah.
Seiring dengan masuknya Program Pamsimas III Tahun Anggaran 2017 dari BLM APBN, APBDes, Masyarakat dan pihak swasta dalam hal ini SKK MIGAS – VICO Indonesia dan PT. TSB dengan pendanaan sebesar Rp. 628.112.639,- maka Pamsimas Desa Saliki ditingkatkan kapasitas produksinya.
Dari yang awal pengoperasian di tahun 2017 hanya 30 sambungan air ke rumah warga, pada tahun 2018 meningkat hingga 300 sambungan, tahun 2019 bertambah menjadi 330 sambungan, tahun 2020 bertambah hingga 350 sambungan air ke rumah warga.
Kini di tahun 2022, penerima manfaat program Pamsimas mencakup empat RT dengan 370 sambungan rumah, telah teraliri air bersih. Adapun jadwal pendistribusian air selama 5 jam per hari, dengan pembagian waktu distribusi pada pagi hari pukul 07.00 – 10.00 dan sore pukul 16.00 – 18.00 wita.
Saliansyah menjelaskan, pelanggan air Pamsimas dikenakan iuran air sesuai kubikasi pemakaian, yakni 1 – 10 meter kubik sebesar Rp 2.500,- per meter kubik dan minimal pemakaian adalah 10 meter kubik atau Rp 25.000 perbulan. Kemudian jika pemakaian lebih dari 10 meter kubik maka kubik ke 11 dan seterusnya dikenakan iuran sebesar Rp 3.500,- per meter kubik.
“Pemasangan sambungan air termasuk metering nya gratis, tentunya biaya iuran kubikasi ini jauh lebih murah, ekonomis daripada harga air PAM di perkotaan,” kata pria kelahiran Desa Saliki tahun 1986 ini.
Selain mendistribusikan air bersih ke rumah warga Desa Saliki, BUMDes Mekar Sejati juga membuka Depot air isi ulang galon. Depo ini menyediakan air mineral dan reverse osmosis (RO) yang mampu melayani isi ulang hingga 200 galon per bulan dengan harga Rp 5.000,- per galon.
Pamsimas Desa Saliki yang dikelola BUMDes Mekar Sejati kini telah bisa mendiri bahkan bisa berkontribusi ke Pendapatan Asli Daerah (PAD) Desa Saliki. Pada tahun 2021 keuntungan Pamsimas mencapai Rp 120 juta dan disetorkan sebagai PAD Desa Saliki sebesar Rp 24 juta.
Pemerintah Desa Saliki sangat mengapresiasi PHSS dalam mengembangkan Program Water Supply System (WSS) Pamsimas, sehingga masyarakat dapat menikmati air bersih yang selama ini sulit didapatkan.
“Kami ikut bangga atas pencapaian ini yang merupakan buah kerja sama yang baik antara SKKMIGAS – PHSS, pemerintah kabupaten hingga desa dan BUMDes Mekar Sejati pengelola Pamsimas,” ungkap Kades yang kini mempunyai dua orang anak ini.

Ia pun menargetkan, kedepan Pamsimas akan meningkatkan kapasitas produksi dengan menambah sumur air bor dan bak penampungan sehingga bisa menambah kapasitas sambungan air dan jam distribusi air yang saat ini hanya 5 jam per hari.
SKKMIGAS – PT. Pertamina Hulu Sanga-Sanga (PHSS) operator lapangan Migas Badak melalui Elis Fauziyah – Head of Comrel & CID PHSS mengatakan Pamsimas merupakan sebuah program partisipatif dan kolaboratif multi stakeholder.
Dimulai dengan melaksanakan survey social mapping – sebuah metode penelitian dan perencanaan sosial partisipatif dan kolaboratif yang melibatkan multi stakeholder seperti pemerintahan, perusahaan, akademisi, organisasi masyarakat, pelaku usaha dan warga Desa Saliki.
“Perencanaan partisipatif menggunakan metode button up planning. Dimulai dengan melakukan survei sosial mapping, musyawarah rencana kerja, Perencanaan strategis (Renstra) dengan mengangkat potensi lokal untuk memecahkan permasalahan di masyarakat,” ucap Elis di Pamsimas Desa Saliki, Jumat (22/07/2022).

Dikatakan Elis, dari perencanaan partisipatif tersebut melahirkan program Water Supply System (WSS), sebuah instalasi pengolahan dan penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) yang dikelola BUMDes Mekar Sejati di Desa Saliki Kecamatan Muara Badak.
PHSS selain membantu pembangunan Pamsimas juga melakukan pendampingan berupa pelatihan manajemen oleh tim sosial PHSS yang mendampingi pengelola manajemen jika ada permasalahan dalam pengelolaan WSS Pamsimas.
“Alhamdulillah, Bumdes Mekar Sejati sudah menghasilkan PAD untuk Desa Saliki tahun 2021 sebesar Rp 24 juta dari pendapatan di tahun 2021 sekitar 120 juta, ini menunjukkan BUMDes dan Pamsimas sudah sehat dan mandiri,” sebut Elis.
Dikatakan, program pendampingan Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan yang diberikan SKK MIGAS – PHSS tentunya tidak seberapa dengan apa yang telah diberikan pemerintah dan masyarakat, namun yang terpenting menurutnya adalah program yang telah diberikan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar perusahaan.
Tahapan selanjutnya, program Comrel & CID PHSS adalah melakukan replikasi program dengan membangun secara partisipatif dan kolaboratif WSS Pamsimas di lapangan Nilam yakni wilayah RT 5 dan 6 Desa Saliki, yang hingga kini masih kesulitan air bersih karena jauhnya jarak dengan WSS Pamsimas yang ada saat ini di RT 3 Desa Saliki.
Atas kinerja positif Corporate Social Responsibility (CSR), program Water Supply System (WSS) Pamsimas, PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) berhasil meraih 2 penghargaan Kategori Gold untuk aspek Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat pada Anugerah Indonesia CSR Awards 2020.
Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan yang berhasil menerapkan program CSR berdasarkan SNI ISO 26000:2013 tentang Panduan Tanggung Jawab Sosial oleh Corporate Forum for Community Development (CFCD) bekerja sama dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN) dan didukung penuh oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia & Kebudayaan Republik Indonesia.
SKK MIGAS – PHSS berkomitmen untuk memastikan bahwa Perusahaan dapat terus menghasilkan migas bagi Indonesia secara selamat dan berkelanjutan, serta menjalankan program-program CSR yang menghasilkan dampak dan manfaat yang signifikan terhadap masyarakat. (hel)







