SAMARINDA – Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) mengembangkan bibit pisang kepok unggulan asal Kabupaten Kutai Timur, yaitu pisang Grecek dengan metoda kultur jaringan di dalam laboratorium.
“Melalui sistem kultur jaringan tentu kami akan lebih cepat memenuhi permintaan bibit pisang yang bebas penyakit fusarium untuk ditanam warga maupun pekebun di Kaltim,” ujar Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Kaltim Siti Farisya Yana di Samarinda, Rabu (29/6/2022).
Dijelaskan Yana, pihaknya mempersiapkan bibit pisang tersebut dengan menggandeng UPTD Balai Benih Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBI TPH) yang terus berupaya mengembangkan bibit pisang, untuk mengejar permintaan ekspor yang cukup tinggi ke Negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Latar belakang penggunaan bibit pisang Grecek dengan cara kultur jaringan ini dikarenakan wabah jamur fusarium pernah menjangkiti ribuan hektar pisang di Kutai Timur beberapa tahun silam.
Petani hanya bisa melakukan penjarangan tanaman (blocking) untuk menghindari meluasnya jamur fusarium ini. Namun, jika menggunakan bibit baru dari kultur jaringan maka rantai penyebaran jamurnya akan terputus karena bibitnya sehat.
“Kita sudah melakukan upaya pencegahan dengan sistem pembaruan monofase dari Fusarium, kita blocking masalah Fusarium. Jadi yang ditakutkan Petani kita blocking, yakni menanam dengan menggunakan metode menjaga sejak Pisang itu tumbuh. Karena kita terbatas dengan pembibitan, kita akan membangun kultur jaringan khusus untuk pokok Pisang,” jelasnya.
Program ini akan dilaunching di bulan November 2022 mendatang dan menurut Yana, program kultur jaringan ini baru pertama kali dilaksanakan di Indonesia, yaitu di Kaltim. Karena petani biasanya untuk mencari bibit baru dengan cara memindahkan anakan pisang tersebut ke lokasi tanam.
“Nah kita belajar kultur jaringan, dikembangkan. Kemudian ditingkatkan lagi dengan memakai simbiotik somatik, dari satu jaringan dan sel yang menghasilkan banyak bibit,” jelas Yana.
Dari pengembangan somatik tersebut, menurut Yana, jika berhasil melakukan pengembangannya maka akan seperti kloning. Jadi nanti benihnya akan tersedia. Tahun ini baru sekitar 10.000 bibit dan pada tahun depan bisa hingga 100 ribuan bibit pisang tersedia,” ujarnya. (yan/adv/kominfokaltim)







