AgresifNews.co
  • Home
  • Parlementaria
    • DPRD Prov. Kaltim
    • DPRD Kutai Timur
  • Kaltim
    • Balikpapan
    • Berau
    • Bontang
    • Kutai Barat
    • Kutai Kartanegara
    • Kutai Timur
    • Mahakam Ulu
    • Paser
    • Penajam Paser Utara
    • Samarinda
  • Nasional
  • Ragam
    • Pemprov. Kalimantan Timur
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Serba-Serbi
    • Kriminal
No Result
View All Result
  • Home
  • Parlementaria
    • DPRD Prov. Kaltim
    • DPRD Kutai Timur
  • Kaltim
    • Balikpapan
    • Berau
    • Bontang
    • Kutai Barat
    • Kutai Kartanegara
    • Kutai Timur
    • Mahakam Ulu
    • Paser
    • Penajam Paser Utara
    • Samarinda
  • Nasional
  • Ragam
    • Pemprov. Kalimantan Timur
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Serba-Serbi
    • Kriminal
AgresifNews.co
No Result
View All Result

Mengapa Bridge Identik dengan Orang Manado?

Oleh: Bert Toar Polii

by Redaksi
May 8, 2024
in Olahraga
0
Anak-anak Manado Bermain Cabang Olahraga Bridge di salah satu mall di Manado

Anak-anak Manado Bermain Cabang Olahraga Bridge di salah satu mall di Manado

Bagikan

Selama ini sudah terpatri di benak insan olahraga di tanah air, berbicara olahraga bridge berarti berbicara mengenai orang Manado.

Mengapa hal ini terjadi? penyebabnya sederhana, karena olahraga bridge selama ini dikenal identik dengan permainan orang Manado, sehingga sering terjadi salah kaprah dimana semua orang Manado dianggap tahu bermain bridge.

Kondisi ini terjadi sebab selama puluhan tahun baik anggota tim nasional maupun anggota tim yang mewakili daerah di Kejurnas Bridge didominasi oleh orang Manado bahkan bukan saja atlet tapi pengurusnya pun orang Manado.

Di era tahun 70 – 80 an, kalau ada Kejurnas Bridge berarti sama dengan reuni antar orang Manado. Hampir semua kontingen yang hadir dari Seluruh Indonesia minimal ada 1 atau 2 orang Manado yang nyelip.

Sebenarnya, kata orang Manado, Bridge baru dikenal pada permulaan abad ke duapuluh, dimana banyak pemuda Minahasa pergi merantau untuk mencari hidup yang lebih baik, demikian menurut Bert Supit dalam Manusia Minahasa: Ditinjau Dari Latar belakang Adat Dan Kebiasaan.

Orang Manado yang ada di benak masyarakat adalah semua orang yang berasal dari Manado, tidak melihat apakah, orang Minahasa atau Manado. Jadi tidak perlu heran, kalau orang Manado tersebar dimana-mana di seluruh Indonesia.

Menyebarnya orang Manado berarti menyebarnya juga olahraga bridge. Walaupun olahraga bridge kurang populer di mata masyarakat tapi dalam hal penyebarannya di seluruh Indonesia patut diacungi jempol. Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI) organisasi yang mengatur olahraga bridge adalah salah satu dari sedikit cabang olahraga yang mempunyai pengurus di seluruh Indonesia.

Kondisi diatas membuat banyak orang bertanya, mengapa olahraga bridge begitu berkembang di antara orang Manado. Sulit menjawab pertanyaan ini secara tepat, tapi menurut saya, ada beberapa hal yang menunjang sehingga orang Manado senang bermain bridge, yaitu dikalangan orang Manado bermain kartu adalah lumrah sehingga tidak identik dengan judi, jadi tidak perlu dilarang. Sewaktu saya kecil, bermain kartu dengan taruhan kelereng merupakan hal yang biasa.

Mapalus

Semangat mapalus yang lebih mengarah kepada kerjasama dan saling membantu, disertai disiplin kelompok tinggi, yang dianut orang Manado sangat membantu dalam permainan bridge. Permainan bridge dilakukan secara pasangan. Sehingga tanpa kerjasama dan saling membantu apalagi tanpa disiplin yang tinggi, jangan harap bisa mencapai hasil yang baik.

Sifat “sei re’en”. Suatu sikap yang didasarkan atas anggapan bahwa apa dan siapa saja, dapat dihadapi dan dikuasai. Sifat sei re’en ditambah keingin tahuaan atas hal-hal yang baru, membuat orang Manado dengan mudah menerima atau meniru apa saja hal-hal yang asing. Sayang sekali sifat sei re’en ini sering menjadi kelemahan orang Manado. Karena sifat sei re’en bila lepas kontrol akan mencapai suatu titik ketinggian yang senantiasa memamerkan sikap “arogansi kebesaran”; menganggap diri besar dan hebat tapi tanpa dasar dan pegangan yang riil; memandang enteng apa dan siapa saja yang dihadapi.

Menurut Alex Paat (Manusia Minahasa: Falsafah Dan Pandangan Hidupnya); orang Manado digambarkan sebagai orang Belanda yang suka minum, mempunyai temperamen demokrasi dan sistim sekolah umum serta menyenangi film-film dari Hollywood dan suka bermain bridge.

Latihan olahraga bridge di tekuni anak-anak Manado dan dipantau Chris Hambokobau (foto: Mega Manado)

Orang Manado dan Bridge Indonesia

Menurut sejarah Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI), pendiri organisasi Gabsi yang lahir tahun 1953 adalah orang Manado, Willy Th. Roring yang juga anggota TNI AL bersama dua bersaudara GA Muntu dan HV Muntu.

Selanjutnya ada Dr. G. Rambitan yang menjadi Ketua Umum PB Gabsi tahun 1966-1968, kemudian menyusul HN Sumual pada tahun 1982-1986. Selain kedua tokoh tersebut masih ada Willy Wuwungan, Dick Masengi, Frans Waleleng, Bob Pangerapan dan masih banyak lagi tokoh-tokoh bridge yang orang Manado mewarnai sejarah GABSI.

Tidak bisa dibantah, di tangan para tokoh diatas, atlet-atlet bridge ditempa sehingga mampu berprestasi ditingkat dunia, mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia di dunia internasional.

Di Kalangan atlet, ada Manoppo bersaudara, Henky Lasut, Max Aguw, WD Karamoy, Denny Sacul, Ferdy Waluyan, Franky Karwur dan sederet nama lainnya, yang telah mengharumkan nama bangsa Indonesia diberbagai arena internasional.

Dua prestasi terbesar yang pernah diukir oleh Indonesia merupakan sumbangsih atlit-atlit kawanua sebutan yang lain untuk orang Manado yaitu: runner-up olimpiade bridge tahun 1996 di kepulauan Rhodos Yunani dengan para pemain Henky Lasut, Eddy Manoppo, Denny Sacul, Franky Karwur, Santje Panelewen dan Giovani Watulingas dan yang terbesar adalah juara 3rd IOC Grand Prix 2000 di Lausanne, Swiss dengan para pemain Henky Lasut, Eddy Manoppo, Denny Sacul dan Franky Karwur.

Keempat nama diatas telah terukir dengan rapi sejajar dengan atlet-atlet peraih medali emas olimpiade di markas besar International Olympic Committee (IOC) di markas IOC di Lausanne, Swiss.

Denny Sacul (alm)

Dari keenam atlet diatas hanya Denny Sacul yang bukan lulusan Manado, ia besar di Surabaya dan mematangkan karir bridgenya di Jakarta. Denny Sacul bisa berhasil karena ia meluangkan 80% waktunya untuk dunia bridge. Memang, untuk berhasil di bidang apapun komitmen total sangat dibutuhkan.

Sisanya adalah atlet-atlet lulusan Manado, Santje, Franky dan Giovani adalah hasil tempaan Gabungan Bridge Manado yang kemudian hijrah ke Jakarta.

Henky Lasut dan Eddy Manoppo adalah dua maestro bridge kita, yang namanya sudah sejajar dengan para kampiun dunia, sehingga sangat pantas kalau kemudian Pemda Sulut mendirikan bridge center di Manado dengan mengabadikan kedua nama besar diatas. Bridge Centre Henky-Eddy yang peletakan batu pertamanya oleh Jend TNI (Purn) Wiranto sebagai Ketua Umum PB Gabsi pada Desember 1996.(*)

 


Bagikan
Previous Post

Parade Gender Kartini

Next Post

Heboh Warung Madura

Next Post
Madura Mart di Ibu Kota Jakarta, hanya tutup kalau hari kiamat.

Heboh Warung Madura

Pak Hadi didampingi Pak Isran mengiris kue ultah.

Milad Bu Mei  dan Pak Hadi

  • Redaksi
  • Info Produk
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

© 2021-2025 Agresifnews.co
All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Parlementaria
    • DPRD Prov. Kaltim
    • DPRD Kutai Timur
  • Kaltim
    • Balikpapan
    • Berau
    • Bontang
    • Kutai Barat
    • Kutai Kartanegara
    • Kutai Timur
    • Mahakam Ulu
    • Paser
    • Penajam Paser Utara
    • Samarinda
  • Nasional
  • Ragam
    • Pemprov. Kalimantan Timur
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Serba-Serbi
    • Kriminal

© 2021-2025 Agresifnews.co
All Right Reserved