SAMARINDA – Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi mengatakan, salah satu penyebab stunting adalah konsumsi makanan yang tidak mengandung gizi seimbang.
“Gaya hidup sehat harus dibangun di masyarakat. Masalah pola makan makanan bergizi seimbang, olahraga jadi kuncinya,” ujarnya dalam kegiatan Rakor penanganan stunting beberapa waktu lalu.
Dikatakan mantan Legislator Senayan dan Karang Paci ini, persoalan stunting tidak hanya terjadi pada keluarga miskin. Tetapi banyak juga dari kalangan orang berada, karena mereka banyak menerapkan pola makanan yang buruk.
“Stunting disebabkan oleh gizi buruk, tapi ini tidak ekuivalen dengan orang miskin. Ini karena pola makan, walaupun miskin tapi masih bisa beli makanan bergizi dan diolah dengan baik. Yang terjadi sekarang, orang makan mau yang praktis, nilai gizinya rendah,” ujarnya.
Kepala BKKBN Kaltim Sunarto membenarkan, buruknya pola konsumsi makanan tanpa memperhitungkan gizi menjadi salah satu penyebab stunting.
“Prilaku adat budaya, karena prilaku bisa pada salah pola konsumsi makanan,” ujarnya.
Dia mencontohkan, seperti kasus stunting yang ditemukan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Diketahui warga yang terkena stunting karena pola makan. Padahal, PPU kata dia, adalah daerah penghasil komoditi sayur dan ikan.
“Seperti di PPU. Di sana ikan dan sayur banyak. Mestinya kecukupan gizi cukup, karena ketersediaan pangan lokal cukup. Tapi faktanya stunting banyak. Itu terjadi karena dari prilaku dan pola asuh,” katanya.
Di Kaltim, lanjut Sunarto, kasus stunting tertinggi terjadi di Kabupaten Kutai Barat (Kubar). Dirinya berharap seluruh stakeholder terkait dapat bersinergi untuk penanganan masalah stunting di Kubar dan Kaltim khususnya.
“Di Kubar ini kenaikan stunting sangat luar biasa. Tentunya yang kita harapkan adalah sinergi seluruh pihak untuk bersama-sama mengatasi persoalan stunting ini dengan serius,” tutupnya. (end/adv/kominfokaltim)







