SAMARINDA – Menjelang Pilkada pada 27 November 2024, tantangan baru muncul dalam pengelolaan informasi, terutama di era digital saat ini. Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Timur, Abdurrahman Amin, menyatakan bahwa karakteristik Pemilu 2024 berbeda dari pemilu sebelumnya, dengan media sosial dan platform digital memainkan peran besar dalam arus informasi dan opini publik.
“Pemilu kali ini banyak dipengaruhi oleh media sosial, yang menjadi tantangan karena sulit diawasi dan dikelola. Diskusi dan kritik di media sosial sering kali berasal dari individu, bukan institusi, sehingga sulit memastikan keakuratan informasi yang beredar,” ungkap Abdurrahman kepada Jurnalborneo.com pada Senin (28/10/2024).
Abdurrahman juga menekankan pentingnya masyarakat untuk tetap waspada dan berpartisipasi dalam diskusi yang produktif. Menurutnya, informasi yang tidak benar atau tidak seimbang dapat memicu polarisasi di masyarakat. Ia mengimbau warga untuk berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Untuk mengatasi hal ini, PWI Kaltim berkomitmen menjaga integritas jurnalistik dengan terus mengedepankan prinsip akurasi dan keseimbangan dalam setiap pemberitaan.
“PWI akan terus mengedepankan prinsip kepentingan publik dalam setiap informasi yang disampaikan agar masyarakat mendapat gambaran yang jelas dan objektif,” lanjutnya.
Abdurrahman menambahkan bahwa penerapan kaidah jurnalistik dan kode etik dalam peliputan sangat penting, terutama untuk isu sensitif seperti pemilu. Dengan menjaga kualitas informasi, diharapkan masyarakat dapat berpartisipasi dalam pemilu dengan wawasan yang lebih matang.
Melalui langkah-langkah ini, PWI Kaltim berharap Pemilu 2024 dapat berjalan dengan transparan dan damai, serta mendorong diskusi yang sehat di kalangan masyarakat.(jalia)







