Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus melakukan upaya untuk mengembangkan akses internet di desa-desa. Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal, memaparkan rencana strategis yang tidak hanya memasang jaringan internet, tetapi juga melakukan pendampingan melalui program Creative Hub Village. Program ini bertujuan agar masyarakat desa tidak hanya terkoneksi, tetapi dapat memanfaatkan teknologi secara produktif.
Ia menjelaskan, satu tantangan utama saat memasang internet di desa adalah penggunaan yang kurang tepat, seperti bermain gim daring atau mengakses konten negatif.
Oleh sebab itu, program Creative Hub Village tidak semata fokus pada pemasangan jaringan, melainkan juga literasi digital dan pengembangan kreativitas masyarakat desa.
“Jika hanya memasang jaringan tanpa pendampingan, dikhawatirkan internet justru digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Kami tidak ingin hasilnya sebatas bermain gim daring atau mengakses konten negatif. Karena itu, setelah jaringan terpasang, kami masuk ke tahap literasi digital, lalu pengembangan creative hub,” ujarnya saat jumpa pers di kantor Diskominfo Kaltim, Jum’at (29/8/2025).
Konsep Creative Hub Village sendiri sangat sederhana namun efektif. Hanya dengan satu rumah atau ruangan yang dilengkapi meja untuk sepuluh orang, perangkat multimedia, dan koneksi internet, masyarakat bisa mendapatkan pelatihan.
Pelatihan difokuskan pada kemampuan menjual produk, mempromosikan melalui platform digital, dan pembuatan konten kreatif yang dapat mendukung produktivitas ekonomi.
“Konsepnya sederhana. Cukup satu rumah atau satu ruangan, disediakan meja untuk sepuluh orang, perangkat multimedia, dan internet. Di tempat ini, masyarakat akan dilatih cara menjual produk, mempromosikannya melalui platform digital, hingga membuat konten kreatif,” jelasnya.
Pemilihan rumah yang dijadikan creative hub juga sudah disepakati masyarakat setempat secara bersama-sama. Diskominfo Kaltim akan memasang jaringan internet, menyediakan perangkat pendukung, sekaligus melakukan pendampingan secara bertahap agar program berjalan dengan efektif dan memberikan hasil maksimal.
“Masyarakat di sana sudah sepakat menunjuk satu rumah sebagai creative hub. Internet kami pasang, perangkat kami bantu, dan pendampingan akan dilakukan secara bertahap agar program ini bisa berjalan efektif,” katanya.
Dalam rangka percepatan pembangunan infrastruktur digital, Diskominfo Kaltim menargetkan seluruh desa sudah terkoneksi paling lambat pada tahun 2026. Setelah jaringan internet terpasang, pengembangan kapasitas masyarakat melalui pelatihan dan pendampingan menjadi fokus utama.
“Kami prioritaskan pemasangan jaringan terlebih dahulu. Paling lambat pada 2026, semua desa sudah terkoneksi. Setelah itu, kami akan fokus pada pelatihan dan pendampingan agar internet bisa dimanfaatkan secara maksimal,” ujarnya.
Dia juga menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari kecepatan internet, tetapi juga bagaimana masyarakat memanfaatkan teknologi tetersebu
Ia mengingatkan contoh dari luar negeri, di mana kecepatan internet tinggi justru sering digunakan untuk hal yang kurang produktif seperti pornografi dan permainan daring berlebihan.
“Banyak contoh di luar negeri, koneksi internet sudah cepat tetapi dipakai untuk mengakses konten pornografi dan permainan daring berlebihan. Hal semacam itu yang ingin kami hindari. Kami berharap masyarakat desa di Kaltim dapat memanfaatkan teknologi ini untuk hal-hal produktif,” tuturnya.
Ia berharap internet yang sudah masuk ke desa bukan hanya menjadi akses hiburan, tapi menjadi pintu gerbang bagi generasi muda untuk berkarya, belajar, dan mengembangkan usaha.
Melalui program Creative Hub Village, desa-desa di Kaltim diyakini tidak hanya terkoneksi tetapi juga mampu naik kelas secara ekonomi.
“Internet desa harus menjadi pintu bagi generasi muda untuk berkarya, belajar, dan mengembangkan usaha. Jika program ini berjalan optimal, desa bukan hanya sekadar terkoneksi, tetapi juga mampu naik kelas secara ekonomi,” pungkasnya. (Slm/ADV/Diskominfo)







